Iwan Satyanegara: Fakta seputar proklamasi

Copy paste dari websitenya Jay! http://yulian.firdaus.or.id/2003/08/12/fakta-seputar-proklamasi/
Dirgahayu Negeriku

Mungkinkah Revolusi Kemerdekaan Indonesia disebut sebagai revolusi
dari kamar tidur? Coba simak ceritanya. Pada 17 Agustus 1945 pukul
08.00, ternyata Bung Karno masih tidur nyenyak di kamarnya, di Jalan
Pegangsaan Timur 56, Cikini. Dia terkena gejala malaria tertiana. Suhu badannya tinggi dan sangat lelah setelah begadang bersama para sahabatnya menyusun konsep naskah proklamasi di rumah Laksamana Maeda.

       Pating greges, keluh Bung Karno setelah dibangunkan de Soeharto, dokter kesayangannya. Kemudian darahnya dialiri chinineurethan intramusculair dan menenggak pil brom chinine. Lalu ia tidur lagi.

Pukul 09.00, Bung Karno terbangun. Berpakaian rapi putih-putih dan
menemui sahabatnya, Bung Hatta. Tepat pukul 10.00, keduanya
memproklamasikan kemerdekaan Indonesia dari serambi rumah.

“Demikianlah Saudara-saudara! Kita sekalian telah merdeka!”, ujar
Bung Karno di hadapan segelintir patriot-patriot sejati. Mereka lalu
menyanyikan lagu kebangsaan sambil mengibarkan bendera pusaka Merah
Putih. Setelah upacara yang singkat itu, Bung Karno kembali ke kamar
tidurnya. masih meriang. Tapi sebuah revolusi telah dimulai…

Upacara Proklamasi Kemerdekaan Indonesia ternyata berlangsung tanpa
protokol, tak ada korps musik, tak ada konduktor dan tak ada
pancaragam. Tiang bendera pun dibuat dari batang bambu secara kasar,
serta ditanam hanya beberapa menit menjelang upacara. Tetapi itulah,
kenyataan yang yang terjadi pada sebuah upacara sakral yang
dinanti-nantikan selama lebih dari tiga ratus tahun!

Bendera Pusaka Sang Merah Putih adalah bendera resmi pertama bagi
RI. Tetapi dari apakah bendera sakral itu dibuat? Warna putihnya dari
kain sprei tempat tidur dan warna merahnya dari kain tukang soto!

        Setelah merdeka 43 tahun, Indonesia baru memiliki seorang menteri pertama yang benar-benar orang Indonesia asli.
Karena semua menteri sebelumnya lahir sebelum 17 Agustus 1945. Itu
berarti, mereka pernah menjadi warga Hindia Belanda dan atau pendudukan
Jepang, sebab negara hukum Republik Indonesia memang belum ada saat
itu. “Orang Indonesia asli” pertama yang menjadi menteri adalah Ir Akbar Tanjung
(lahir di Sibolga, Sumatera Utara, 30 Agustus 1945), sebagai Menteri
Negara Pemuda dan Olah Raga pada Kabinet Pembangunan V (1988-1993).

Menurut Proklamasi 17 Agustus 1945, Kalimantan adalah bagian
integral wilayah hukum Indonesia. Kenyataannya, pulau tersebut paling
unik di dunia. Di pulau tersebut, ada 3 kepala negara yang memerintah!
Presiden Soeharto (memerintah 4 wilayah provinsi), PM Mahathir Mohamad (Sabah dan Serawak) serta Sultan Hassanal Bolkiah (Brunei).

       Hubungan antara revolusi Indonesia dan Hollywood,
memang dekat. Setiap 1 Juni, selalu diperingati sebagai Hari Lahir
Pancasila semasa Presiden Soekarno. Pada 1956, peristiwa tersebut
“hampir secara kebetulan” dirayakan di sebuah hotel Hollywood. Bung
Karno saat itu mengundang aktris legendaris Marylin Monroe, untuk sebuah makan malam di Hotel Beverly Hills, Hollywood. Hadir di antaranya Gregory Peck, George Murphy dan Ronald Reagan
(25 tahun kemudian menjadi Presiden AS). Yang unik dari pesta menjelang
Hari Lahir Pancasila itu, adalah kebodohan Marilyn dalam hal protokol.
Pada pesta itu, Maryln menyapa Bung Karno bukan dengan “Mr President”
atau “Your Excellency”, tetapi dengan Prince Soekarno!

       Ada lagi hubungan erat antara 17 Agustus dan Hollywood. Judul pidato 17 Agustus 1964, Tahun Vivere Perilocoso (Tahun yang Penuh Bahaya), telah dijadikan judul sebuah film The Year of Living Dangerously.
Film tersebut menceritakan pegalaman seorang wartawan asing di
Indonesia pada 1960-an. Pada 1984, film yang dibintangi Mel Gibson itu
mendapat Oscar untuk kategori film asing!

Naskah asli teks Proklamasi Kemerdekaan Indonesia yang ditulis
tangan oleh Bung Karno dan didikte oleh Bung Hatta, ternyata tidak
pernah dimiliki dan disimpan oleh Pemerintah! Anehnya, naskah historis
tersebut justru disimpan dengan baik oleh wartawan B. M. Diah.
Diah menemukan draft proklamasi itu di keranjang sampah di rumah
Laksamana Maeda, 17 Agustus 1945 dini hari, setelah disalin dan diketik
oleh Sajuti Melik. Pada 29 Mei 1992, Diah menyerahkan draft
tersebut kepada Presiden Soeharto, setelah menyimpannya selama 46 tahun
9 bulan 19 hari.

Ketika tiba di Pelabuhan Sunda Kelapa 9 Juli 1942 siang bolong,
Bung Karno mengeluarkan komentar pertama yang janggal didengar. Setelah
menjalani pengasingan dan pembuangan oleh Belanda di luar Jawa, Bung
Karno justru tidak membicarakan strategis perjuangan menentang
penjajahan. Masalah yang dibicarakannya, hanya tentang sepotong jas!
“Potongan jasmu bagus sekali!” komentar Bung Karno pertama kali tentang
jas double breast yang dipakai oleh bekas iparnya, Anwar
Tjikoroaminoto, yang menjemputnya bersama Bung Hatta dan segelintir
tokoh nasionalis.

        Rasa-rasanya di dunia ini, hanya the founding fathers
Indonesia yang pernah mandi air seni. Saat pulang dari Dalat
(Cipanasnya Saigon), Vietnam, 13 Agustus 1945, Soekarno bersama Bung
Hatta, dr Radjiman Wedyodiningrat dan dr Soeharto (dokter pribadi Bung
Karno) menumpang pesawat fighter bomber bermotor ganda. Dalam
perjalanan, Soekarno ingin sekali buang air kecil, tetapi tak ada
tempat. Setelah dipikir, dicari jalan keluarnya untuk hasrat yang tak
tertahan itu. Melihat lubang-lubang kecil di dinding pesawat, di
situlah Bung Karno melepaskan hajat kecilnya. Karena angin begitu
kencang sekali, bersemburlah air seni itu dan membasahi semua
penumpang. Byuuur…

Berkat kebohongan, peristiwa sakral Proklamasi 17 Agustus 1945
dapat didokumentasikan dan disaksikan oleh kita hingga kini. Saat
tentara Jepang ingin merampas negatif foto yang mengabadikan peristiwa
penting tersebut, Frans Mendoer, fotografer yang merekam
detik-detik proklamasi, berbohong kepada mereka. Dia bilang tak punya
negatif itu dan sudah diserahkan kepada Barisan Pelopor, sebuah gerakan
perjuangan. Mendengar jawaban itu, Jepang pun marah besar. Padahal
negatif film itu ditanam di bawah sebuah pohon di halaman Kantor harian
Asia Raja. Setelah Jepang pergi, negatif itu diafdruk dan dipublikasi
secara luas hingga bisa dinikmati sampai sekarang. Bagaimana kalau
Mendoer bersikap jujur pada Jepang?

Kali ini, Bung Hatta yang berbohong demi proklamasi. Waktu masa
revolusi, Bung Karno memerintahkan Bung Hatta untuk meminta bantuan
senjata kepada Jawaharlal Nehru. Cara untuk pergi ke India
pun dilakukan secara rahasia. Bung Hatta memakai paspor dengan nama
“Abdullah, co-pilot”. Lalu beliau berangkat dengan pesawat yang
dikemudikan Biju Patnaik, seorang industrialis yang kemudian menjadi
menteri pada kabinet PM Morarji Desai. Bung Hatta diperlakukan sangat hormat oleh Nehru dan diajak bertemu Mahatma Gandhi.
Nehru adalah kawan lama Hatta sejak 1920-an dan Gandhi mengetahui
perjuangan Hatta. Setelah pertemuan, Gandhi diberi tahu oleh Nehru
bahwa “Abdullah” itu adalah Mohammad hatta. Apa reaksi Gandhi? Dia
marah besar kepada Nehru, karena tidak diberi tahu yang sebenarnya.
“You are a liar!” ujar tokoh kharismatik itu kepada Nehru

Bila 17 Agustus menjadi tanggal kelahiran Indonesia, justru tanggal
tersebut menjadi tanggal kematian bagi pencetus pilar Indonesia. Pada
tanggal itu, pencipta lagu kebangsaan “Indonesia Raya”, WR Soepratman (wafat 1937) dan pencetus ilmu bahasa Indonesia, Herman Neubronner van der Tuuk (wafat 1894) meninggal dunia.

Bendera Merah Putih dan perayaan tujuh belasan bukanlah monopoli
Indonesia. Corak benderanya sama dengan corak bendera Kerajaan Monaco
dan hari kemerdekaannya sama dengan hari proklamasi Republik Gabon
(sebuah negara di Afrika Barat) yang merdeka 17 Agustus 1960.

Jakarta, tempat diproklamasikannya kemerdekaan Indonesia dan kota
tempat Bung Karno dan Bung Hatta berjuang, tidak memberi imbalan yang
cukup untuk mengenang co-proklamator Indonesia. Sampai detik ini, tidak
ada “Jalan Soekarno-Hatta” di ibu kota Jakarta. Bahkan, nama mereka
tidak pernah diabadikan untuk sebuah objek bangunan fasilitas umum apa
pun sampai 1985, ketika sebuah bandara diresmikan dengan memakai nama
mereka.

Gelar Proklamator untuk Bung Karno dan Bung Hatta, hanyalah gelar
lisan yang diberikan rakyat Indonesia kepadanya selama 41 tahun! Sebab,
baru 1986 Permerintah memberikan gelar proklamator secara resmi kepada
mereka.

Kalau saja usul Bung Hatta diterima, tentu Indonesia punya “lebih
dari dua” proklamator. Saat setelah konsep naskah Proklamasi
Kemerdekaan Indonesia rampung disusun di rumah Laksamana Maeda, Jl.
Imam Bonjol no 1, Jakarta, Bung Hatta mengusulkan semua yang hadir saat
rapat din hari itu ikut menandatangani teks proklamasi yang akan
dibacakan pagi harinya. Tetapi usul ditolak oleh Soekarni, seorang
pemuda yang hadir. Rapat itu dihadiri Soekarno, Hatta dan calon
proklamator yang gagal: Achmad Soebardjo, Soekarni dan Sajuti Melik.
“Huh, diberi kesempatan membuat sejarah tidak mau”, gerutu Bung Hatta
karena usulnya ditolak.

Perjuangan frontal melawan Belanda, ternyata tidak hanya menelan
korban rakyat biasa, tetapi juga seorang menteri kabinet RI. Soepeno,
Menteri Pembangunan dan Pemuda dalam Kabinet Hatta, merupakan
satu-satunya menteri yang tewas ditembak Belanda. Sebuah ujung
revolver, dimasukkan ke dalam mulutnya dan diledakkan secara keji oleh
seorang tentara Belanda. Pelipis kirinya tembus kena peluru. Kejadian
tersebut terjadi pada 24 Februari 1949 pagi di sebuah tempat di
Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur. Saat itu, Soepeno dan ajudannya sedang
mandi sebuah pancuran air terjun.

Belum ada negara di dunia yang memiliki ibu kota sampai tiga dalam
kurun waktu relatif singkat. Antara 1945 dan 1948, Indonesia mempunyai
3 ibu kota, yakni Jakarta (1945-1946), Yogyakarta (1946-1948) dan Bukittinggi (1948-1949).

       Panglima Besar Tentara Nasional Indonesia Jenderal Soedirman,
pada kenyatannya tidak pernah menduduki jabatan resmi di kabinet RI.
Beliau tidak pernah menjadi KSAD, Pangab, bahkan menteri pertahanan
sekalipun!

Wayang ternyata memiliki simbol pembawa sial bagi rezim yang
memerintah Indonesia. Betapa tidak, pada 1938-1939, Pemerintah Hindia
Belanda melalui De Javasche Bank menerbitkan uang kertas seri
wayang orang dan pada 1942, Hindia Belanda runtuh dikalahkan Jepang.
Pada 1943, Pemerintah Pendudukan Jepang menerbitkan uang kertas seri
wayang Arjuna dan Gatotkoco dan 1945, Jepang terusir dari Indonesia
oleh pihak Sekutu. Pada 1964, Presiden Soekarno mengeluarkan uang
kertas baru seri wayang dengan pecahan Rp1 dan Rp2,5 dan 1965 menjadi
awal keruntuhan pemerintahannya menyusul peristiwa G30S/PKI.

Perintah pertama Presiden Soekarno saat dipilih sebagai presiden
pertama RI, bukanlah membentuk sebuah kabinet atau menandatangani
sebuah dekret, melainkan memanggil tukang sate! Itu dilakukannya dalam
perjalanan pulang, setelah terpilih secara aklamasi sebagai presiden.
Kebetulan di jalan bertemu seorang tukang sate bertelanjang dada dan
nyeker (tidak memakai alas kaki). “Sate ayam lima puluh tusuk!”,
perintah Presiden Soekarno. Disantapnya sate dengan lahap dekat sebuah
selokan yang kotor. Dan itulah, perintah pertama pada rakyatnya
sekaligus pesta pertama atas pengangkatannya sebagai pemimpin dari 70
juta jiwa lebih rakyat dari sebuah negara besar yang baru berusia satu
hari.

Kita sudah mengetahui, hubungan antara Bung Karno dan Belanda
tidaklah mesra. Tetapi Belanda pernah memberikan kenangan yang tak akan
pernah dilupakan oleh Bung Karno. Enam hari menjelang Natal 1948,
Belanda memberikan hadiah Natal di Minggu pagi, saat orang ingin pergi
ke gereja, berupa bom yang menghancurkan atap dapurnya. Hari itu, 19
Desember 1948, ibu kota Yogyakarta jatuh ke tangan Belanda.

       Sutan Sjahrir, mantan Perdana Menteri RI pertama,
menjadi orang Indonesia yang memiliki prestasi “luar biasa” dan tidak
akan pernah ada yang menandinginya. Waktu beliau wafat 1966 di Zurich,
Swiss, statusnya sebagai tahanan politik. Tetapi waktu dimakamkan di
Jakarta beberapa hari kemudian, statusnya berubah sebagai Pahlawan
Nasional Indonesia.

Diambil dari:  Arsip mailing list Friendship

Leave a Reply